Luka lama dan Perasaan yang sama
Tidak ada yang berbeda pada hari itu semua berjalan seperti hari-hari sebelumnya, aku menjalani kehidupanku seperti biasa sampai satu ketika aku menyadari ada hal yang berbeda, yaitu kehadiranmu. Kau hadir diantara aku dan temanku dengan canda yang kau suguhkan seolah mereka adalah teman lama, mungkin hanya aku yang tidak mengenalmu pada hari itu, tapi sejak itu tawamu selalu mampu membuatku ingin menyapamu.
Hari berganti,
semakin sering kita berjumpa dalam basa-basi, dalam hal aneh yang tak terpikir
akan kulakukan sebelumnya. Langit tengah mendung kala itu namun hujan
takkunjung turun, entah apa yang menggerakan jari dan pikiranmu pesan singkat
mengatasnamakan dirimu berkunjung ke telepon genggamku. Dengan alasan ingin
bercerita kau mengajakku berjumpa yang entah dimana.
Kita berjumpa
dalam tawa, berbalaskan canda tanpa tertinggal sedikit duka, kau bercerita
tentang nya yang selalu membuatmu terluka, tentang dia yang tak sudi lagi untuk
kau cinta. Tetesan air mata yang keluar dari matamu membuatku semakin percaya
bahwa orang yang paling lantang tertawa ia adalah yang paling dalam menahan
luka. Satu yang takan ku lupa dari malam itu, kau memelukku dan seketika
berbisik “aku butuh kamu”.
Kata-kata yang
keluar dari mulutmu membuatku percaya bahwa kamu akan menjadi seseorang yang
berarti untukku. Sejak malam itu aku mulai tertarik padamu aku ingin mengenalmu
lebih jauh, sebab sejak malam itu aku tidak pernah menganggapmu setara dengan
dunia, kau terlalu istimewa bila tak ku ajak berjalan beriringan bersama. Aku
suka saat kau menangis terlebih hanya aku yang dapat membuatmu tersenyum
kembali.
Tidak seperti
hubungan pada umumnya, yang berawal manis berbalaskan pesan romantis dan adu
rayu yang kian membuatnya candu, kau mendatangiku dengan luka lama yang membuatku
percaya bahwa aku biasa mengobatinya, kau mencariku dengan sejuta cerita
tentangnya yang membuatku percaya bahwa aku adalah orang yang tepat untuk
menggantikannya.
Beberapa saat kita
bersama, saling merajut asa, menjalin mimpi yang selalu kita amini bersama dan dengan segala rasa yang ada didunia serta
cinta yang takpernah ku rasa sebelumnya, seketika kau menjadi bagian dalam
hidupku kau menjadi satu-satunya alasanku untuk merindu.
Dimana ada aku
selalu ada kamu layaknya sepasang sepatu yang selalu bersama tapi entah akan
melangkah kemana. Kita adalah dua insan manusia yang paling bahagia saat itu
seakan dunia hanya milik kita berdua dan kita benar – benar lupa bahwa akan selalu ada duka yang menunggu
dibalik Bahagia yang lupa waktu.
Denganmu Bahagia
merupakan hal yang selalu ada, bahkan sebelum sang surya menampakan dirinya
kepada dunia, ucapan selamat pagi darimu telah menjadi ritual baru sebagai
penyemangat menjalani hari tanpa haru, berbagi kabar denganmu telah menjadi
rutinitas yang menyibukanku. bahkan dalam tidurku takpernah ku memimpikan
selain kamu.
Hari berlalu
begitu cepat, entah apa yang merasuki pikiranmu saat itu, secara perlahan kau
menghilang dari kenyataan, membuatku kembali menjalani hari dengan haru. Hanya
ada satu pesan singkat darimu yang berisikan “aku butuh waktu tanpa kamu” , dan
entah mengapa asal menenangkanmu akan ku berikan selalu. Tidak adalagi kabarmu,
tidak adalagi ucapan selamat pagi darimu, bahkan senyummu yang dulu biasa kini
mulai tiada. Aku mencarimu, aku menunggumu, dan aku mencintaimu.
Waktu berlalu,
pesan singkat darimu kembali masuk ke ponselku, ajakan bertemu darimu membuat
jantungku begitu terpacu, melepas rindu, bercumbu rayu, dan tertawa hingga lupa
waktu, itu semua ada di khayalku. Namun nihil itu semua hanya ada di khayalku,
nyatanya kau menemuiku bukan karena rindu tapi karena ada cerita haru yang
ingin kau sampaikan padaku. kau bercerita bahwa dia yang telah menyakitimu
datang kembali kehidupmu, dengan luka lama dan perasaan yang sama dia kembali
membujukmu untuk masuk keceritanya yang jelas tidak ada aku.
Setiap perasaan
yang pernah kita rasakan kau tinggalkan tanpa satupun pertimbangan, setiap
kenangan yang telah kita lakukan kau lupakan tanpa sekalipun perayaan, dan
untuk semua do’a yang telah kita amini kau hanguskan bagai api membakar jerami.
Tetes air mata menemani kata maaf dan kesempatan yang kau pinta dengan alasan
cinta kau putuskan untuk kembali ke ceritanya.
Kini biar aku yang
pergi, kembali berteman dengan sepi, kembali berdamai dengan andai, menerima
apa yang tak ku terima dan mencoba melepas tanpa memelas. Dan akan ku sampaikan dalam do’a peraduanku agar
kau tetap senang, bahagia, sehat dan tak kekurangan. Sebagai jalanmu
mengingatku mulai saat ini hatiku tidak akan pernah menjadi rumahmu.
Aduuhh, masih mau galau ??
BalasHapus